Universitas Islam Bogor (UIB) menggelar Stadium General bertema “New Media sebagai Katalisator Transformasi Kampus Islam” di Auditorium Gedung C UIB, Rabu (23/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembekalan mahasiswa dalam menghadapi perkembangan teknologi digital dan transformasi perguruan tinggi Islam.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Surat Keputusan pejabat struktural oleh Dr. Asep Zakariya Ansori, Lc., M.H., dilanjutkan pembacaan struktur pejabat kampus serta prosesi pelantikan yang dipimpin oleh Dr. H. Syamsul Rizal Mz., S.H.I., M.Pd.I. Para pejabat struktural menyatakan kesiapan untuk menjalankan amanah dan tanggung jawab di lingkungan UIB.
Setelah prosesi pelantikan dan penyematan secara simbolis, kegiatan Stadium General dibuka oleh M. Irfan Baihaki dan Muzaynatul Usruh selaku pembawa acara. Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan shalawat oleh Jalaludin, mahasiswa semester 3 Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne UIB.
Stadium General menghadirkan Prof. Dr. Moch. Fakhruroji, M.A., Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, sebagai pemateri utama. Ia membahas perkembangan new media dan kaitannya dengan transformasi perguruan tinggi Islam.
“Menjadi mahasiswa adalah sebuah privilege, karena tidak semua orang bisa menjadi mahasiswa,” jelasnya.
Prof. Fakhruroji menjelaskan bahwa transformasi tidak hanya berkaitan dengan perubahan teknologi, tetapi juga perubahan pola pikir, mentalitas, dan cara manusia melihat perkembangan di sekitarnya.
Menurutnya, mahasiswa perlu memanfaatkan kesempatan menempuh pendidikan tinggi untuk membangun pengetahuan, keterampilan, serta kesiapan menghadapi perubahan zaman.
Ia juga menegaskan bahwa new media bukan sekadar media yang baru secara bentuk, tetapi berkaitan dengan perubahan fungsi dan cara manusia menggunakannya. Dalam konteks perguruan tinggi, pemanfaatan new media dapat menjadi salah satu katalisator transformasi digital.
Namun, transformasi tersebut tidak cukup hanya dengan mengadopsi teknologi. Perguruan tinggi juga perlu memperhatikan kesiapan sumber daya manusia, budaya organisasi, serta akses terhadap teknologi. Beberapa tantangan yang turut disoroti antara lain digital divide, cultural resistance, serta kebutuhan peningkatan kapasitas dan pelatihan.
Prof. Fakhruroji juga mendorong mahasiswa agar tidak hanya menjadi konsumen teknologi. Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), perlu dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar dan produktivitas.
“AI jangan dijadikan panduan, tetapi jadikan teman,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan talkshow bertema “Membangun Digital Presence Kampus Islam yang Berintegritas dan Berdaya Saing” yang menghadirkan H. Tomy Kurniawan, S.Kom., anggota DPR RI Fraksi PKB, dengan Hj. Nurul Fadhila, M.Sos. sebagai moderator.
Dalam sesi tersebut, Tomy membahas pentingnya kehadiran digital bagi perguruan tinggi. Menurutnya, digitalisasi tidak lagi sekadar pilihan, tetapi menjadi kebutuhan untuk mengikuti perubahan perilaku masyarakat dan perkembangan dunia pendidikan.
Digital presence kampus juga tidak sebatas keberadaan website atau media sosial, tetapi bagaimana institusi membangun komunikasi dengan mahasiswa dan masyarakat melalui berbagai platform digital.
Ia turut menekankan pentingnya literasi digital bagi mahasiswa. Perkembangan teknologi yang cepat menuntut mahasiswa untuk terus membaca, belajar, dan mengikuti perkembangan informasi.
Dalam sesi tanya jawab, mahasiswa membahas berbagai persoalan, mulai dari kemungkinan tergantikannya peran manusia oleh AI, strategi kampus Islam menghadapi perkembangan teknologi, hingga cara mahasiswa bertransformasi dari konsumen digital menjadi pengguna yang produktif.
Para pemateri menekankan bahwa perkembangan teknologi perlu diikuti dengan peningkatan kapasitas diri, literasi digital, dan etika dalam penggunaannya.
Prof. Fakhruroji juga mengingatkan pentingnya sanad keilmuan dan referensi dalam proses pendidikan. Menurutnya, hubungan mahasiswa dengan guru, dosen, dan sumber ilmu tetap memiliki nilai penting karena pendidikan tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga membangun hubungan kemanusiaan dan kepercayaan.
Rangkaian kegiatan kemudian diisi dengan penyerahan sertifikat dan plakat kepada para pemateri serta ice breaking bersama mahasiswa dan duta kampus. Kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Dr. Ahmad Idhofi, M.Pd.I.
Melalui kegiatan tersebut, UIB mendorong mahasiswa untuk mampu memanfaatkan perkembangan teknologi secara produktif dengan tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman. Stadium General sekaligus menjadi bagian dari pembekalan mahasiswa dalam memahami arah transformasi UIB dengan semangat “Kampus Islami, Kampus Transformasi.”