Perkembangan new media dan teknologi digital mendorong perguruan tinggi Islam untuk terus beradaptasi. Tidak hanya dalam pemanfaatan teknologi, tetapi juga dalam membangun pola pikir dan budaya akademik. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan Stadium General Universitas Islam Bogor (UIB) yang menghadirkan Prof. Dr. Moch. Fakhruroji, M.A., Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Dalam kegiatan tersebut, Prof. Fakhruroji membawakan materi bertajuk “New Media dan Transformasi Perguruan Tinggi Islam”. Ia mengajak mahasiswa melihat perkembangan media baru sebagai bagian dari perubahan pola pikir, perilaku, dan kehidupan masyarakat.
Prof. Fakhruroji juga mengingatkan mahasiswa untuk memanfaatkan masa perkuliahan dengan sebaik-baiknya, mulai dari membangun kompetensi, memperluas pengalaman, hingga mempersiapkan diri menghadapi masa depan.
“Masa depan itu kita yang menulis,” pesannya.
Menurutnya, masyarakat saat ini telah menjadi bagian dari masyarakat digital. Berbagai aktivitas, mulai dari berkomunikasi, mencari informasi, belajar, bekerja, hingga membangun jejaring, semakin terhubung dengan media digital.
Namun, ia menegaskan bahwa new media bukan sekadar teknologi atau perangkat baru. Perubahan juga terlihat dari fungsi dan cara masyarakat menggunakan media tersebut.
“Media baru itu bukan hanya soal kebaruan, tetapi bagaimana media tersebut memiliki fungsi dan cara penggunaan yang baru,” jelasnya.
“Sebelum diposting harus difilter,” pesannya.
Prof. Fakhruroji menjelaskan bahwa transformasi digital di perguruan tinggi perlu dilakukan secara menyeluruh. Optimalisasi new media dapat dilanjutkan dengan pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) secara tepat.
Dalam prosesnya, terdapat sejumlah tantangan seperti digital divide, cultural resistance, serta keterbatasan kapasitas dan kebutuhan pelatihan. Karena itu, transformasi tidak cukup hanya berorientasi pada teknologi, tetapi juga perlu memperhatikan kesiapan manusia dan lingkungan pendidikan.
Selain teknologi, Prof. Fakhruroji turut menekankan pentingnya sanad dan referensi dalam proses menuntut ilmu, khususnya dalam tradisi keilmuan Islam. Menurutnya, referensi menjadi bagian penting dalam membangun argumentasi ilmiah dan menunjukkan keterhubungan seseorang dengan sumber ilmu.
Ia juga menilai interaksi langsung antara mahasiswa dengan guru atau dosen tetap memiliki nilai penting. Hubungan tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun pengalaman belajar dan hubungan kemanusiaan yang tidak selalu diperoleh melalui media digital.
Dalam sesi tanya jawab, mahasiswa turut membahas hubungan antara teknologi, tradisi keilmuan Islam, dan produktivitas di era digital. M. Fahri Rizik, mahasiswa PBA, menanyakan pentingnya sanad serta posisi Al-Qur’an dan hadis dalam proses belajar.
Sementara itu, Dinda Aprilia, mahasiswa Ekonomi Syariah, menyoroti mahasiswa yang sudah melek digital tetapi masih lebih banyak menjadi konsumen. Ia mempertanyakan bagaimana mahasiswa dapat memanfaatkan media secara lebih produktif.
Pertanyaan lainnya disampaikan Anisa, mahasiswa PGMI, mengenai pemanfaatan new media secara lebih partisipatif.
Menanggapi hal tersebut, Prof. Fakhruroji mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu menghasilkan dan menyebarkan pengetahuan secara bertanggung jawab. Ia mengingatkan bahwa aktivitas digital meninggalkan jejak sehingga setiap informasi perlu disaring sebelum dipublikasikan.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat dan plakat kepada Prof. Dr. Moch. Fakhruroji sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam kegiatan Stadium General.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa UIB diharapkan mampu memanfaatkan perkembangan teknologi secara produktif, kritis, dan bertanggung jawab. Transformasi perguruan tinggi Islam pun tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga kesiapan mahasiswa dalam menghadapi perubahan zaman.