Pendidikan Islam perlu terus berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan nilai keimanan, akhlak, dan kasih sayang. Hal tersebut disampaikan Prof. Hj. Salman Manggalatung, S.H., M.H., dalam orasi ilmiah bertajuk “Pendidikan dengan Cinta sebagai Arah Baru Pendidikan Islam” pada Wisuda Sarjana VI Institut Ummul Quro Al-Islami (IUQI) Bogor.
Dalam orasinya, Prof. Salman menyampaikan bahwa wisuda bukan sekadar seremoni akademik, tetapi menjadi momentum untuk mensyukuri perjuangan dan ketekunan para wisudawan selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Menurutnya, pencapaian para wisudawan hingga sampai pada tahap wisuda juga tidak terlepas dari doa, dukungan, dan pengorbanan orang tua. Karena itu, keberhasilan akademik perlu disertai dengan kesadaran untuk terus mengembangkan diri dan mengamalkan ilmu yang telah diperoleh.
Prof. Salman kemudian menyoroti perkembangan teknologi dan perubahan kehidupan yang berlangsung semakin cepat. Menurutnya, perkembangan tersebut menghadirkan berbagai tantangan terhadap moral, akhlak, dan integritas manusia.
Dalam kondisi tersebut, pendidikan Islam memiliki peran penting untuk tetap memberikan arah dalam pembentukan karakter. Pendidikan tidak hanya ditujukan untuk membangun kecerdasan intelektual, tetapi juga perlu memperhatikan aspek keimanan, akhlak, serta hubungan manusia dengan lingkungan dan sesamanya.
“Pendidikan tanpa cinta hanya akan melahirkan generasi yang cerdas, tetapi belum tentu memiliki akhlak,” ujarnya.
Karena itu, Prof. Salman menekankan pentingnya pendekatan pendidikan yang menempatkan cinta dan kasih sayang sebagai bagian dari proses pendidikan. Menurutnya, nilai cinta dapat menjadi landasan dalam membentuk peserta didik agar memiliki karakter yang lebih utuh.
Ia menjelaskan bahwa terdapat lima nilai utama dalam pendidikan berbasis cinta, yaitu cinta kepada Tuhan, cinta kepada diri sendiri, cinta kepada ilmu, cinta kepada lingkungan, dan cinta kepada tanah air.
Kelima nilai tersebut menjadi bagian penting dalam membangun generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memiliki karakter, kepedulian terhadap lingkungan, serta perhatian terhadap kehidupan sosial di sekitarnya.
“Pendidikan tanpa cinta hanya akan melahirkan generasi yang cerdas, tetapi belum tentu memiliki akhlak,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu pokok penting dalam orasi ilmiah yang disampaikan Prof. Salman. Pendidikan, menurut gagasan yang disampaikannya, perlu membangun keseimbangan antara kecerdasan dan akhlak agar ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
Menutup orasinya, Prof. Salman mengajak para wisudawan untuk terus menjaga kualitas diri, memperkuat keimanan dan akhlak, serta mengamalkan ilmu yang telah diperoleh selama menjalani pendidikan.
Ia juga mendorong para lulusan agar menjadikan ilmu sebagai bekal untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat sekaligus mengambil bagian dalam membangun peradaban Indonesia.
Pesan tersebut menjadi salah satu pembekalan bagi para wisudawan IUQI Bogor dalam memasuki fase kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan sarjana. Nilai keimanan, akhlak, ilmu, kepedulian, dan cinta diharapkan tetap menjadi bagian dari perjalanan mereka dalam berkarya dan mengabdi di tengah masyarakat.