Universitas Islam Bogor

Talkshow Stadium General Bahas Strategi Membangun Digital Presence Kampus Islam

Perkembangan teknologi digital membawa perubahan dalam dunia pendidikan, termasuk perguruan tinggi Islam. Kampus tidak hanya dituntut mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga membangun digital presence yang berintegritas dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam talkshow Stadium General bertema “Membangun Digital Presence Kampus Islam yang Berintegritas dan Berdaya Saing” yang menghadirkan H. Tomy Kurniawan, S.Kom., Anggota DPR RI Fraksi PKB, sebagai narasumber. Talkshow dipandu oleh Hj. Nurul Fadhila, M.Sos.

Dalam pemaparannya, Tomy Kurniawan menjelaskan bahwa teknologi digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Kondisi tersebut turut mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, berkomunikasi, belajar, hingga berinteraksi dengan berbagai institusi.

Talkshow Stadium General Bahas Strategi Membangun Digital Presence Kampus Islam

Menurutnya, transformasi digital juga mengubah peta persaingan antarperguruan tinggi. Kehadiran digital tidak cukup hanya melalui website atau media sosial, tetapi perlu menjadi jembatan antara kampus, mahasiswa, dan masyarakat.

“Transformasi digital harus diikuti dengan transformasi diri kita,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang semakin memengaruhi berbagai aktivitas manusia. Menurutnya, AI perlu dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan efektivitas kerja, bukan diposisikan sebagai pengganti manusia sepenuhnya.

“AI jangan dijadikan panduan, tetapi jadikan teman,” pesannya.

Tomy menambahkan bahwa digitalisasi dapat membantu perguruan tinggi meningkatkan efisiensi dan tata kelola. Sistem digital dapat mengurangi proses birokrasi manual, mempercepat pengelolaan dokumen, serta mendukung administrasi melalui sistem yang terintegrasi.

Selain itu, digital presence juga dapat memperluas kemitraan dan meningkatkan daya saing perguruan tinggi. Kampus perlu mempersiapkan lulusan agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan dunia kerja dan kebutuhan industri digital.

AI, Literasi Digital, dan Peran Manusia

Dalam sesi tanya jawab, mahasiswa turut membahas tantangan yang muncul akibat perkembangan teknologi.

Muhammad Jaya, mahasiswa MBS, menanyakan kemungkinan tergantikannya peran manusia oleh AI serta bagaimana manusia seharusnya menghadapi perubahan tersebut.

Sementara itu, Agmi, mahasiswa Program Studi Fisika, menyoroti fenomena perguruan tinggi yang mulai berlomba membangun digital presence serta bagaimana hal tersebut dapat menjadi gambaran bagi kampus Islam dalam menghadapi masa depan.

Pertanyaan lainnya disampaikan Riyanatul, mahasiswa PGMI, mengenai langkah yang perlu dilakukan mahasiswa agar tidak tertinggal di tengah perkembangan teknologi.

Menanggapi hal tersebut, Tomy menegaskan bahwa teknologi dan AI tetap merupakan hasil karya manusia. Karena itu, mahasiswa perlu meningkatkan literasi digital dan terus belajar agar mampu beradaptasi dengan perubahan.

“Jangan malas untuk membaca,” tegasnya.

Menurutnya, perkembangan teknologi juga membuka berbagai peluang baru. Mahasiswa tidak seharusnya hanya menjadi pengguna, tetapi perlu memahami dan memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan kemampuan serta menciptakan peluang.

Di sisi lain, kemampuan digital perlu berjalan beriringan dengan etika. Menurut Tomy, perkembangan teknologi tidak menghilangkan kebutuhan terhadap nilai, tanggung jawab, dan etika manusia.

“AI akan kalah dengan etika,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa semakin terbukanya akses informasi membuat persaingan semakin luas. Karena itu, mahasiswa perlu meningkatkan kemampuan sekaligus kesiapan diri untuk menghadapi perubahan.

“Transformasi digital harus diikuti dengan transformasi diri kita,” ungkapnya.

Melalui talkshow tersebut, mahasiswa diajak melihat perkembangan teknologi bukan hanya sebagai tantangan, tetapi juga sebagai peluang untuk berkembang. Kehadiran digital kampus diharapkan dapat mendukung pendidikan sekaligus memperkuat daya saing perguruan tinggi Islam.

Pada akhirnya, transformasi digital perlu diiringi literasi, kemauan belajar, dan etika, sehingga perkembangan teknologi tetap memberikan manfaat tanpa menghilangkan nilai dan integritas manusia.

Scroll to Top